Pendahuluan: Ketegangan AS–Iran Memuncak
DEWABERITA– Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran bukan hal baru. Selama bertahun-tahun, hubungan kedua negara diwarnai sanksi, ancaman militer, negosiasi nuklir yang buntu, serta konflik proxy di kawasan Timur Tengah. Kini, laporan dari media internasional menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump mempertimbangkan sebuah opsi yang sangat kontroversial: membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan putranya, Mojtaba Khamenei jika negosiasi gagal dan ketegangan meningkat.
Informasi ini disampaikan oleh media seperti Axios, yang melaporkan adanya skenario yang dipresentasikan kepada Trump yang mencakup opsi tersebut — meskipun belum ada keputusan final.

Siapa Itu Ayatollah Ali Khamenei dan Mojtaba Khamenei?
Ayatollah Ali Khamenei adalah Supreme Leader (Pemimpin Tertinggi) Iran — posisi tertinggi dalam struktur politik dan agama negara yang memiliki kontrol sangat besar atas militer, kebijakan luar negeri, dan lembaga negara Iran. Kepemimpinannya telah menentukan arah hubungan Iran dengan negara lain termasuk AS.
Mojtaba Khamenei, putranya, selama beberapa tahun terakhir dianggap oleh sejumlah analis sebagai figur berpengaruh di sekitar lingkar kekuasaan tertinggi Iran, bahkan disebut sebagai kandidat kuat pengganti ayahnya dalam suksesi di masa depan.
Konteks Laporan: Skenario Militer Trump
Laporan Axios menyebut ada sejumlah opsi militer di meja Trump, dan salah satu skenario ekstrem termasuk target terhadap Khamenei dan putranya jika konflik semakin panas.
Namun, penting dicatat bahwa hingga saat ini:
- Trump belum mengambil keputusan akhir atas opsi tersebut.
- Opsi tersebut masih berupa skenario perencanaan yang dipresentasikan oleh penasihat militer/pemerintah kepada Trump.
- Belum ada bukti kuat bahwa operasi semacam itu telah dimulai.
Seberapa Realistis Rencana Ini?
Opsi membunuh pemimpin sebuah negara lain adalah langkah yang sangat drastis dalam hukum internasional dan geopolitik. Ada beberapa alasan mengapa skenario itu dipertimbangkan namun tidak otomatis menjadi aksi nyata:
1. Hukum Internasional dan Risiko Eskalasi
Membunuh seorang kepala negara atau pemimpin tertinggi negara lain dapat dianggap tindakan agresi militer besar yang melanggar hukum internasional dan berpotensi memicu respons militer besar dari negara lain, termasuk sekutu Iran. Risiko eskalasi sangat tinggi.
2. Reaksi Iran dan Partner Regional
Iran telah menegaskan bahwa jika serangan militer dilakukan terhadap negara atau kepemimpinannya, mereka akan merespons, yang bisa memperluas konflik ke basis AS dan sekutunya di wilayah seperti Teluk Persia.
Trump, Negosiasi Nuklir, dan Deadline

Selama Januari–Februari 2026, Trump telah memberi Iran waktu 10–15 hari untuk menyetujui kesepakatan nuklir atau menghadapi konsekuensi serius, termasuk kemungkinan tindakan militer.
Trump juga telah mengerahkan kapal induk dan kekuatan militer lain ke kawasan Timur Tengah sebagai bagian dari tekanan terhadap Iran jika negosiasi nuklir tidak mencapai hasil yang diinginkan.
Reaksi dan Implikasi Global
1. Reaksi Iran
Iran telah menolak tekanan semacam itu dan bersikeras akan mempertahankan haknya atas program nuklir untuk tujuan damai, sambil memperingatkan bahwa tindakan militer terhadap negaranya akan membawa dampak serius.
2. Krisis Regional Lebih Besar
Jika konflik eskalatif berkembang menjadi perang terbuka, ini dapat menarik negara lain seperti Israel, Arab Saudi, dan bahkan Rusia dan Tiongkok, yang memiliki kepentingan di kawasan. Dampaknya bisa merambat ke pasar energi global serta stabilitas geopolitik.
3. Reaksi Dunia dan Organisasi Internasional
Negara lain kemungkinan besar akan menyerukan deeskalasi, diplomasi, dan mediasi melalui PBB atau jalur multilateral lain untuk menghindari perang total di Timur Tengah.
Trump dan Sejarah Targeting Pemimpin Iran
Ini bukan pertama kali AS membunuh figur militer Iran saat Trump menjadi presiden. Sebelumnya, pada 2020, AS di bawah Trump menghancurkan Qasem Soleimani, komandan militer penting Iran, dalam serangan drone di Baghdad — operasi yang mendapat kritik internasional luas.
Namun, itu adalah komandan militer — bukan kepala negara atau pemimpin tertinggi Iran — membuat skenarionya berbeda dari kemungkinan target terhadap Khamenei.
Kesimpulan: Antara Diplomasi dan Ketegangan
Kabar tentang rencana pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei dan putranya masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut. Ini bukan keputusan yang pasti, tetapi sebuah opsi dalam daftar militer yang dipertimbangkan oleh pemerintahan Trump apabila diplomasi gagal.

























